Bandung Tempo Dulu: Kereta Api Mengubah Wajah Kota Bandung

Bandung tempo dulu berubah pesat setelah hadirnya kereta api. Simak kisah Stasiun Bandung, Pasar Baru, hotel, dan perkembangan ekonomi kota.

Bandung Tempo Dulu: Kereta Api Mengubah Wajah Kota Bandung

Kereta api bukan sekadar alat transportasi yang menghubungkan kota-kota di Pulau Jawa. Bagi Kota Bandung, hadirnya jalur rel pada akhir abad ke-19 menjadi salah satu titik balik terbesar dalam sejarah perkembangannya. Dari sebuah kota yang berkembang karena perkebunan, Bandung berubah menjadi pusat perdagangan, jasa, hingga perhotelan yang ramai berkat lalu lintas penumpang kereta api.

Catatan menarik mengenai perubahan tersebut dapat ditemukan dalam buku Wajah Bandung Tempo Doeloe. Buku ini menggambarkan bagaimana kereta api menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Bandung sekaligus membentuk wajah kota yang masih dapat dikenali hingga sekarang.

Jalur Kereta Api Menjadi Akselerator Kemajuan Bandung

Setelah jalur kereta api Batavia–Bandung melalui Bogor dan Cianjur diresmikan pada 17 Mei 1884, hubungan antarkota di Pulau Jawa mengalami perubahan besar. Jalur tersebut kemudian diteruskan menuju Cilacap dan Surabaya melalui Yogyakarta sehingga Bandung berada di salah satu simpul transportasi paling strategis di Jawa.

Kereta api mempercepat distribusi hasil perkebunan Priangan, membuka akses perdagangan, serta mendukung mobilitas masyarakat yang sebelumnya mengandalkan perjalanan darat dengan waktu tempuh jauh lebih lama.

Namun, manfaat terbesar yang dirasakan Bandung bukan hanya soal transportasi. Kota ini berkembang menjadi tempat persinggahan utama bagi ribuan penumpang yang melakukan perjalanan dari Batavia menuju Surabaya maupun sebaliknya.

Bandung Menjadi Kota "Stop Over"

Pada masa Hindia Belanda, jalur kereta api Batavia–Surabaya hanya memiliki satu lintasan utama melalui jalur selatan Pulau Jawa. Karena itulah Bandung dijadikan kota transit (stop over), tempat penumpang berganti kereta sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya.

Keberadaan Bandung sebagai kota transit membawa keuntungan ekonomi yang luar biasa. Penumpang yang lelah setelah berjam-jam berada di dalam kereta membutuhkan tempat beristirahat, makan, hingga menginap. Kebutuhan tersebut melahirkan berbagai usaha baru yang kemudian menggerakkan roda perekonomian kota.

Empat Kereta Cepat Batavia–Bandung

Kemajuan layanan kereta api semakin terasa ketika Staatsspoorwegen (SS) membuka layanan "Vlugge Vier" atau Empat Kereta Cepat yang mulai beroperasi pada 1 November 1934.

Empat rangkaian kereta setiap hari melayani rute Batavia–Bandung melalui jalur baru Cikampek–Purwakarta. Waktu tempuhnya hanya sekitar 2¾ jam, sebuah pencapaian yang sangat mengesankan pada zamannya.

Kecepatan tersebut bahkan dibandingkan dengan perjalanan pada masa Gubernur Jenderal Daendels. Jika dahulu perjalanan menggunakan Kereta Pos dari Bandung menuju Batavia membutuhkan sekitar 2⅔ hari, maka dengan layanan "Empat Cepat" perjalanan dapat diselesaikan hanya dalam hitungan jam.

Prestasi ini dipromosikan secara besar-besaran melalui iklan surat kabar dengan slogan:

"Staats Spoor Steeds Sneller"

yang berarti "Kereta Api Negara Selalu Lebih Cepat."

Iklan lainnya bahkan memuat kalimat berbahasa Belanda yang menjelaskan bahwa perjalanan yang dahulu memakan waktu beberapa hari kini dapat ditempuh hanya dalam 2¾ jam.

Kereta Ekspres Bandung–Surabaya

Selain jalur Batavia, Bandung juga memiliki hubungan kereta api yang sangat baik menuju Surabaya.

Saat itu terdapat dua layanan kereta ekspres, yaitu:

  • Nacht Trein, kereta ekspres malam.
  • Eendagsche, kereta ekspres siang yang mampu menempuh perjalanan Bandung–Surabaya hanya dalam satu hari.

Layanan tersebut semakin memperkuat posisi Bandung sebagai kota penghubung terpenting di Pulau Jawa bagian selatan.

Kawasan Sekitar Stasiun Bandung Tumbuh Pesat

Ramainya aktivitas kereta api membuat kawasan sekitar Stasiun Bandung berkembang sangat cepat.

Di sekitar stasiun bermunculan hotel-hotel yang melayani penumpang transit, di antaranya berada di kawasan:

  • Jalan Gardujati,
  • Jalan Kebon Jeruk,
  • Belakang Pasar,
  • Jalan Suniaraja,
  • Jalan Pasar Baru,
  • serta kawasan di selatan stasiun.

Bahkan terdapat Hotel Nasional yang lokasinya berada di depan Stasiun KA dan Hotel Kramat yang diperuntukkan bagi masyarakat Eropa.

Meningkatnya aktivitas perhotelan menjadi salah satu bukti nyata bahwa pembangunan jalur kereta api membawa dampak langsung terhadap sektor jasa di Kota Bandung.

Rumah Makan dan Warung Nasi Ikut Ramai

Kedatangan penumpang setiap hari juga menghidupkan usaha kuliner.

Di sekitar stasiun berdiri berbagai rumah makan, warung nasi, toko, dan pusat perdagangan yang melayani kebutuhan para pelancong.

Bandung bahkan dikenal memiliki makanan yang murah dan lezat.

Dalam catatan tersebut disebutkan, dengan uang dua sen, seseorang sudah bisa menikmati sate lengkap dengan nasi. Sementara dengan lima sen, pembeli memperoleh sepiring nasi lengkap dengan kuah, tempe, tahu, sayuran, sambal, irisan daging, bahkan tambahan empal yang disiram kuah.

Murahnya harga makanan menjadi daya tarik tersendiri bagi para penumpang yang singgah di Bandung.

Pasar Baru Buka Hampir 24 Jam

Perdagangan di sekitar stasiun juga berkembang pesat.

Pasar Baru menjadi salah satu pusat ekonomi yang tidak pernah sepi. Karena melayani penumpang kereta api yang datang dan berangkat sepanjang hari, aktivitas pasar berlangsung hampir 24 jam.

Berbagai kebutuhan tersedia, mulai dari makanan siap santap hingga bahan makanan mentah.

Keberadaan pasar tersebut semakin mengukuhkan Bandung sebagai pusat perdagangan yang hidup berkat arus penumpang kereta api.

Kereta Api Mengubah Wajah Kota Bandung

Apa yang terjadi di Bandung menunjukkan bahwa kereta api bukan hanya menghadirkan moda transportasi baru, melainkan juga membentuk kehidupan ekonomi masyarakat.

Keberadaan jalur rel mendorong pertumbuhan hotel, losmen, rumah makan, pasar, toko, hingga berbagai usaha jasa lainnya. Bandung yang semula berkembang sebagai kota perkebunan perlahan berubah menjadi pusat perdagangan, jasa, dan transportasi yang penting di wilayah Priangan.

Jejak perkembangan itu masih dapat dilihat hingga kini melalui kawasan Stasiun Bandung, Pasar Baru, Gardujati, dan sejumlah bangunan tua yang menjadi saksi ramainya aktivitas masyarakat pada masa Bandung tempo doeloe.


Sumber: Wajah Bandung Tempo Doeloe.

Deni Kurnia
Deni Kurnia Guru Blogger Cianjur

Posting Komentar untuk "Bandung Tempo Dulu: Kereta Api Mengubah Wajah Kota Bandung"

Disclaimer: Konten ini merupakan artikel sejarah berbasis referensi yang dikemas dengan gaya bercerita. Unsur naratif dan humor ringan bertujuan meningkatkan kenyamanan membaca tanpa mengubah fakta sejarah yang menjadi rujukan.