Pieters Park: Taman Tempat Musik, Sekolah, dan Kenangan Kota Bandung
Menelusuri kisah Pieters Park, taman pertama di Bandung yang menjadi pusat hiburan, musik, pendidikan, dan kehidupan masyarakat sebelum menjadi Taman Merdeka.
Bandung memang identik dengan taman. Hampir setiap sudut kota memiliki ruang hijau untuk berkumpul, berolahraga, atau sekadar menikmati udara sejuk.
Namun jauh sebelum taman-taman modern bermunculan, Bandung sudah memiliki sebuah taman yang sangat terkenal. Namanya Pieters Park, yang kini dikenal sebagai Taman Merdeka.
Tempat ini bukan sekadar taman. Di sinilah sejarah, hiburan, pendidikan, hingga kehidupan masyarakat Bandung bertemu dalam satu ruang.
Dari Taman Menjadi Pusat Kehidupan Kota
Seiring berkembangnya Bandung, kawasan di sekitar Pieters Park ikut berubah.
Rumah-rumah penduduk bermunculan. Perkampungan semakin ramai. Jalan-jalan mulai dipenuhi aktivitas warga.
Meski begitu, taman tetap menjadi jantung kehidupan kota.
Kalau sekarang orang janjian bertemu di kafe, dulu cukup bilang, "Ketemu di Pieters Park."
Selesai.
Gudang Garam yang Bukan Rokok
Di sekitar tahun 1910, berdiri sebuah gudang penyimpanan garam di dekat taman.
Tenang.
Ini bukan merek rokok.
Benar-benar gudang untuk menyimpan garam.
Lokasi itu kemudian dimanfaatkan untuk berbagai pertunjukan kesenian.
Setiap Sabtu sore dan Minggu, masyarakat datang menyaksikan sirkus, pameran, hingga hiburan rakyat.
Anak-anak pun punya tempat bermain.
Suasananya ramai, tetapi tetap akrab.
Para Planter Mencari Hiburan
Ketika arsitek Ed Cuypers membangun Gedung Javasche Bank di kawasan Plein, para planter atau pengusaha perkebunan mulai sering berkumpul di sekitar Pieters Park.
Mereka datang untuk bersantai setelah bekerja.
Di dekat Toko Sarinah saat itu berdiri panggung musik.
Setiap kelompok memiliki selera masing-masing.
Ada yang ingin menikmati orkes.
Ada pula yang sekadar berbincang santai sambil menikmati sore Bandung.
Musik yang Sempat "Mengungsi"
Panggung musik di Pieters Park awalnya berada di tengah Jalan Braga.
Namun lokasi itu dianggap mengganggu lalu lintas.
Akhirnya panggung dipindahkan ke dalam taman.
Keputusan itu justru membuat suasana semakin nyaman.
Orkes tetap dimainkan.
Pengunjung tetap berdatangan.
Bandung tetap bergembira.
Kisah Schenk dan Orkes Bandung
Ada cerita menarik dari masa itu.
Seorang pemimpin orkes bernama Schenk pernah didatangi seorang perempuan Belanda.
Perempuan itu penasaran dengan kemampuan Schenk memimpin pertunjukan musik.
Schenk lalu mengajaknya ikut ke Bandung.
Sesampainya di Pieters Park, perempuan itu dibuat kagum melihat antusiasme masyarakat menikmati pertunjukan musik.
Bandung rupanya sudah memiliki kehidupan seni yang sangat hidup.
Dari Brass Band Menjadi Orkes Salon
Musik di Pieters Park terus berkembang.
Awalnya berupa Brass Band.
Lalu berubah menjadi Orkes Salon.
Pada akhirnya berkembang lagi menjadi kelompok musik yang lebih eksklusif.
Perubahan itu mengikuti perkembangan selera masyarakat Bandung.
Satu hal yang tidak berubah adalah kecintaan warga terhadap hiburan musik.
Gedung-Gedung Penting Mengelilingi Taman
Pieters Park juga dikelilingi berbagai bangunan penting.
Di antaranya Gedung Javasche Bank di sisi selatan.
Bangunan itu kini dikenal sebagai Gedung Bank Indonesia.
Di sisi timur berdiri sekolah HBS yang kemudian menjadi SMA Negeri 2 Bandung.
Di sebelah barat terdapat Gereja Protestan.
Sementara lapangan kecil yang dahulu berada di kawasan Braga kemudian digunakan untuk pembangunan Gedung Javasche Bank.
Hampir setiap sudut taman memiliki cerita.
Tempat Bertemu Berbagai Kalangan
Pieters Park mempertemukan banyak orang.
Pejabat.
Guru.
Pegawai bank.
Musisi.
Pedagang.
Hingga masyarakat biasa.
Semuanya berbagi ruang yang sama.
Tidak ada media sosial.
Tidak ada grup WhatsApp.
Kalau ingin bertemu teman, ya datang saja ke taman.
Kemungkinan besar akan bertemu.
Warisan yang Masih Terasa
Kini nama Pieters Park memang telah berganti menjadi Taman Merdeka.
Bangunan di sekitarnya pun banyak berubah.
Namun jejak sejarahnya masih bisa ditelusuri.
Setiap pohon tua.
Setiap sudut taman.
Bahkan jalan-jalan di sekitarnya masih menyimpan kisah panjang perjalanan Kota Bandung.
Mungkin itulah yang membuat Taman Merdeka tetap terasa istimewa.
Bukan hanya karena rindangnya pepohonan.
Tetapi karena setiap langkah di sana sebenarnya sedang melewati jejak sejarah Bandung yang pernah begitu hidup.
