Braga, Jalan Pedati yang Menjadi Simbol Awal Transportasi Modern Bandung
Sejarah Jalan Braga sebagai jalan pedati Bandung tempo dulu, perkembangan transportasi dari kerbau hingga kereta pos, serta peran Jalan Raya Daendels.
Bagi wisatawan, Jalan Braga identik dengan bangunan bergaya kolonial, galeri seni, hingga deretan kafe yang menjadi ikon Kota Bandung. Namun jauh sebelum menjadi kawasan wisata, jalan ini memiliki sejarah yang sangat berbeda.
Sedikit yang mengetahui bahwa Braga pernah dikenal sebagai Karrenweg, istilah dalam bahasa Belanda yang berarti jalan pedati. Nama tersebut muncul karena pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19, kawasan ini menjadi jalur utama lalu-lalang pedati yang ditarik kerbau untuk mengangkut hasil bumi dari wilayah Priangan.
Sejarah ini menunjukkan bahwa Braga bukan hanya pusat perdagangan, tetapi juga menjadi salah satu urat nadi transportasi darat yang menopang pertumbuhan Bandung sejak masa kolonial.
Kerbau Menjadi Tulang Punggung Angkutan Priangan
Sebelum jaringan jalan berkembang, masyarakat Priangan sangat bergantung pada pedati yang ditarik kerbau. Hewan ini dipilih bukan tanpa alasan.
Kerbau memiliki tenaga besar sehingga mampu membawa muatan lebih banyak dibandingkan kuda. Selain itu, populasinya juga melimpah di Pulau Jawa pada masa tersebut sehingga lebih mudah dimanfaatkan sebagai alat angkut hasil pertanian maupun kebutuhan perdagangan.
Catatan sejarah bahkan menyebutkan bahwa sekitar tahun 1749, ratusan kerbau pengangkut hasil bumi rutin melintasi jalur antara Parakanmuncang dan Sumedang menuju wilayah yang kini menjadi Bandung.
Jalan Raya Daendels Mengubah Sistem Transportasi
Perubahan besar terjadi setelah pembangunan Jalan Raya Pos (Groote Postweg) oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada awal abad ke-19.
Dengan hadirnya jalan raya tersebut, perjalanan darat menjadi jauh lebih mudah. Kereta berkuda mulai digunakan untuk perjalanan jarak jauh, sementara pedati tetap menjadi angkutan utama untuk distribusi barang.
Meski demikian, perubahan itu tidak berlangsung secara instan. Selama puluhan tahun, pedati kerbau dan kereta kuda masih berjalan berdampingan memenuhi kebutuhan transportasi masyarakat.
Braga Menjadi Jalur Pedati Terpenting Bandung
Banyaknya pedati yang keluar masuk pusat kota membuat masyarakat kolonial menjuluki Braga sebagai Karrenweg atau Jalan Pedati.
Setiap hari, kawasan ini dipenuhi kendaraan pengangkut hasil bumi, kebutuhan rumah tangga, hingga barang dagangan dari berbagai daerah di Priangan.
Aktivitas ekonomi yang sangat padat inilah yang kemudian mendorong Braga berkembang menjadi kawasan perdagangan paling sibuk di Bandung pada masa berikutnya.
Sebelum Kereta Pos, Ada Usungan Tanpa Roda
Sebelum Jalan Raya Pos selesai dibangun, alat transportasi masyarakat bahkan jauh lebih sederhana.
Salah satunya adalah usungan kayu yang ditarik kerbau. Kendaraan ini tidak memiliki roda. Bagian depannya diikat pada kerbau, sementara bagian belakang menyeret tanah.
Di atasnya dipasang atap dari rumbia sebagai pelindung penumpang dari hujan maupun panas matahari.
Kendaraan sederhana ini pernah digunakan untuk mengangkut pasien kolera dari Batavia menuju Cipanas pada tahun 1759. Perjalanan sejauh itu ditempuh selama delapan hari dengan kondisi yang sangat berat.
Mengangkut Minuman dari Batavia hingga Bandung
Ada fakta menarik lainnya mengenai transportasi masa kolonial.
Sampai awal abad ke-20, sebagian minuman keras yang dikonsumsi masyarakat Eropa di Bandung masih didatangkan dari Batavia.
Barang tersebut ternyata tidak selalu diangkut menggunakan kereta kuda. Botol kaca sering pecah akibat guncangan perjalanan sehingga sebagian pengiriman dilakukan dengan cara dipikul oleh ratusan orang.
Satu rombongan dapat terdiri atas sekitar 100 orang pemikul yang berjalan kaki dari Batavia menuju Bandung selama kurang lebih lima hari lima malam demi memastikan barang tiba dalam kondisi utuh.
Kereta Pos Mulai Menghubungkan Kota-Kota di Jawa
Seiring berkembangnya Jalan Raya Pos, kereta pos mulai beroperasi menghubungkan berbagai kota penting di Pulau Jawa.
Kereta ini digunakan untuk membawa pejabat pemerintahan, keluarga bupati, surat-menyurat, hingga penumpang umum.
Keberadaan instal kuda di sepanjang jalur Daendels memungkinkan pergantian kuda secara berkala sehingga perjalanan menjadi lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Sistem inilah yang kemudian menjadi fondasi berkembangnya transportasi darat modern di Hindia Belanda.
Dari Jalan Pedati Menjadi Ikon Kota Bandung
Kini, Braga dikenal sebagai kawasan wisata sejarah yang dipenuhi bangunan berarsitektur kolonial, tempat berkumpulnya seniman, fotografer, dan wisatawan.
Namun di balik keindahannya, tersimpan kisah panjang mengenai perjuangan transportasi masyarakat Priangan. Dari pedati kerbau, usungan tanpa roda, kereta pos, hingga berkembang menjadi jalan paling terkenal di Kota Bandung.
Memahami sejarah Braga membuat kita menyadari bahwa setiap sudut kota menyimpan cerita yang membentuk identitas Bandung hingga saat ini.
