Pieter Sijthoff, Orang Belanda yang Ikut Membentuk Wajah Kota Bandung
Pieter Sijthoff menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah Kota Bandung. Simak kisahnya membangun Bandung dari kota kecil menjadi pusat modern.
Pernahkah Anda Membayangkan Bandung Sebelum Ada Braga?
Kalau sekarang orang datang ke Bandung untuk berburu kopi, belanja, atau sekadar berfoto di Jalan Braga, dulu ceritanya jauh berbeda.
Bandung pada pertengahan abad ke-19 bukanlah kota yang sibuk seperti sekarang. Jalan masih sepi. Transportasi mengandalkan kuda. Bahkan urusan keamanan pun masih membuat orang menghela napas panjang.
Konon, harimau masih berkeliaran di sekitar wilayah Bandung.
Iya, harimau. Bukan cuma macet yang menerkam.
Kalau zaman sekarang orang takut dompet hilang di tempat wisata, waktu itu orang lebih dulu memastikan tidak bertemu macan saat pulang perjalanan. Begitulah Bandung tempo dulu.
Datanglah Seorang Bernama Pieter Sijthoff
Di tengah kondisi itulah muncul nama Pieter Sijthoff.
Ia menjabat sebagai Asisten Residen Priangan yang kemudian dipercaya mengelola Kota Bandung. Namun, Sijthoff bukan sekadar pejabat kolonial yang sibuk menandatangani surat.
Menurut berbagai catatan sejarah, ia juga dikenal sebagai seorang budayawan.
Tahun 1882, ia mendirikan perkumpulan sandiwara Tooneelvereeniging Braga. Dari sinilah kehidupan seni masyarakat Eropa di Bandung mulai berkembang.
Nah, ini menarik.
Biasanya pejabat kalau sudah pegang jabatan sibuk rapat dari pagi sampai sore. Sijthoff justru masih sempat mengurus dunia seni.
Kalau bahasa Rosadi Jamani, "Masih sempat mikirin panggung teater. Zaman sekarang, baru rapat dua jam saja sudah minta kopi tiga gelas."
Bandung Pernah "Malu" di Hadapan Tamu
Pada tahun 1896 Bandung menjadi tuan rumah Kongres Pengusaha Gula dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Acara besar itu ternyata membuka mata banyak pihak.
Bandung dianggap belum layak sebagai kota besar. Infrastruktur masih terbatas. Fasilitas publik belum memadai.
Ibarat menerima tamu penting, rumah masih berantakan.
Sijthoff menyadari kondisi tersebut.
Alih-alih marah, ia memilih mengajak masyarakat ikut membangun kota.
Gagasan Besar yang Mendahului Zamannya
Setelah kongres selesai, Sijthoff mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat Eropa di Bandung.
Ia mengusulkan sebuah wadah partisipasi warga agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut memikirkan masa depan kota.
Hari ini istilahnya mungkin "kolaborasi".
Seratus tahun lalu, gagasan seperti itu sudah muncul.
Hebat juga.
Kadang kita mengira konsep melibatkan masyarakat baru muncul belakangan. Rupanya Bandung sudah mencobanya sejak akhir abad ke-19.
Bandung Modern Tidak Lahir Dalam Semalam
Perubahan Bandung tentu tidak hanya hasil kerja satu orang.
Ada banyak tokoh, termasuk Bupati Bandung R.A.A. Martanagara, yang ikut berperan.
Namun, Pieter Sijthoff menjadi salah satu sosok yang berhasil memadukan kemampuan sebagai administrator, pengelola kota, sekaligus budayawan.
Ia memahami bahwa kota bukan hanya soal jalan dan gedung.
Kota juga membutuhkan identitas, ruang budaya, dan masyarakat yang merasa memiliki.
Penutup
Saat kita berjalan di Braga atau menikmati udara Bandung hari ini, mungkin jarang terlintas nama Pieter Sijthoff.
Padahal, di balik wajah Bandung yang kita kenal sekarang, ada jejak pemikiran seorang administrator yang percaya bahwa membangun kota bukan hanya pekerjaan pemerintah, tetapi juga pekerjaan seluruh warganya.
Dan mungkin itu pelajaran paling berharga dari sejarah Bandung.
Karena kota yang hebat tidak dibangun oleh beton semata.
Melainkan oleh orang-orang yang mau peduli.

Posting Komentar untuk "Pieter Sijthoff, Orang Belanda yang Ikut Membentuk Wajah Kota Bandung"