Siapa Pencetus Nama Bandung Dijuluki Parijs van Java?
Siapa pencetus nama Bandung Parijs van Java? Simak kisah Pieter Sijthoff dan warga Bandung membangun kota hingga dikenal sebagai Parijs van Java.
![]() |
| Pencetus Bandung Parijs van Java |
Bandung Tidak Langsung Dijuluki Parijs van Java
Kalau sekarang orang menyebut Bandung sebagai Paris van Java, banyak yang mengira julukan itu muncul begitu saja. Seolah-olah ada seseorang yang bangun tidur, menyeruput kopi, lalu berkata, "Mulai hari ini Bandung adalah Parijs van Java."
Kalau sejarah semudah itu, para sejarawan mungkin sudah pensiun sejak lama.
Kenyataannya, julukan tersebut lahir melalui proses panjang. Di baliknya ada tokoh-tokoh yang bekerja diam-diam, menggerakkan masyarakat, membangun kota, bahkan menciptakan identitas Bandung yang kelak mendunia.
Salah satu nama yang hampir selalu muncul dalam kisah itu adalah Pieter Sijthoff.
Bandung Akhir Abad ke-19 Masih Jauh dari Kota Modern
Membayangkan Bandung tahun 1890-an jangan disamakan dengan Bandung hari ini.
Jalan masih sederhana. Perjalanan menuju Cianjur pun belum sepenuhnya aman. Dalam catatan yang dikutip penulis buku ini dari kisah Lie Kim Hok, perjalanan darat antara Cianjur dan Bandung masih berisiko bertemu harimau maupun badak.
Iya, harimau.
Kalau sekarang orang mengeluh karena jalan macet di Padalarang, dulu orang mungkin lebih dulu berdoa semoga tidak berpapasan dengan raja hutan.
Begitulah suasana Priangan kala itu.
Lahir Organisasi yang Ingin Memajukan Bandung
Setelah berbagai gagasan yang dirintis Pieter Sijthoff berkembang, pada tahun 1898 lahirlah sebuah organisasi bernama Vereeniging tot Nut van Bandoeng en Omstreken atau Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan Sekitarnya.
Tujuannya sederhana, tetapi besar dampaknya.
Mengajak masyarakat ikut memikirkan kemajuan Bandung.
Residen Priangan C.W. Kist dipercaya menjadi ketua kehormatan. Namun mesin penggeraknya tetap Pieter Sijthoff, sosok yang dikenal aktif, penuh inisiatif, dan mampu menyatukan berbagai kalangan.
Kalau memakai istilah sekarang, mungkin beliau adalah "project manager" yang tidak pernah kehabisan ide.
Semua Elemen Masyarakat Turut Bergerak
Yang menarik, organisasi ini tidak hanya berisi pejabat kolonial.
Para pemilik perkebunan, pengusaha, ilmuwan, guru, dokter, seniman, pemilik hotel, pemilik restoran hingga pedagang di Jalan Braga ikut bergabung.
Nama-nama besar seperti K.A.R. Bosscha, keluarga Homann, hingga sejumlah pengusaha perkebunan Priangan tercatat menjadi bagian dari gerakan tersebut.
Mereka memiliki latar belakang berbeda.
Tetapi satu tujuan yang sama.
Menjadikan Bandung sebagai kota yang nyaman, maju, dan memiliki daya tarik.
Hari ini kita mengenalnya sebagai kolaborasi.
Seratus dua puluh tahun lalu, mereka sudah mempraktikkannya.
Dari Organisasi Inilah Identitas Bandung Mulai Dibangun
Membangun kota ternyata bukan hanya soal membuka jalan atau mendirikan gedung.
Bandung juga membutuhkan citra.
Membutuhkan cerita.
Membutuhkan kebanggaan.
Salah satu kisah menarik dalam buku ini menyebutkan bahwa seorang pengusaha mebel di Braga bernama Roth diduga menjadi orang pertama yang menggunakan semboyan "Bandoeng Parijs van Java" sebagai bagian dari promosi pada Pasar Malam Tahunan sekitar tahun 1920.
Belakangan, julukan itu semakin sering digunakan oleh K.A.R. Bosscha dalam berbagai pidato sehingga perlahan melekat di benak masyarakat.
Di sinilah sejarah menjadi menarik.
Ternyata tidak ada satu dokumen resmi yang menyatakan siapa pencetus tunggal julukan tersebut.
Ada dugaan.
Ada kesaksian.
Ada berbagai versi.
Justru itulah yang membuat sejarah selalu hidup untuk terus ditelusuri.
Pieter Sijthoff, Sang Perangkai Mimpi Kota Bandung
Meski bukan pencetus julukan Parijs van Java, sulit membayangkan Bandung berkembang secepat itu tanpa peran Pieter Sijthoff.
Ia berhasil menghubungkan pejabat, pengusaha, budayawan, hingga masyarakat dalam satu tujuan.
Membangun Bandung.
Bukan hanya membangun jalan.
Tetapi membangun rasa memiliki terhadap kota.
Kalau sekarang istilahnya city branding, Sijthoff dan rekan-rekannya sudah melakukannya lebih dari satu abad yang lalu, meski belum mengenal istilah tersebut.
Penutup
Ketika kita menikmati suasana Braga, duduk di kafe, atau berfoto di depan Gedung Sate, mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa identitas Bandung dibentuk melalui kerja panjang banyak orang.
Ada Pieter Sijthoff yang menggerakkan masyarakat.
Ada K.A.R. Bosscha yang ikut membangun citra kota.
Ada para pengusaha, guru, ilmuwan, seniman, dan pedagang yang percaya bahwa sebuah kota besar tidak lahir hanya karena pemerintah bekerja.
Melainkan karena warganya ikut bergerak.
Dan mungkin itulah alasan mengapa Bandung tetap istimewa hingga hari ini.
Sebab sebelum dikenal sebagai Parijs van Java, Bandung lebih dulu menjadi kota yang dibangun oleh orang-orang yang mencintainya.
