Bagaimana Pieter Sijthoff Mengubah Kampung Menjadi Kota Modern?
Sejarah Kota Bandung berubah pesat berkat Pieter Sijthoff. Simak kisah pembangunan jalan, sekolah, Pasar Baru, hingga Bandung modern.
Pernahkah Anda membayangkan seperti apa wajah Bandung lebih dari seratus tahun yang lalu?
Lupakan dulu Gedung Sate, Braga yang ramai wisatawan, atau Pasar Baru yang selalu dipenuhi pembeli. Bandung pada penghujung abad ke-19 masih merupakan kota kecil yang sedang mencari jati dirinya. Jalan belum semuanya layak dilalui, rumah-rumah sederhana berdiri di sepanjang jalan raya, dan transportasi masih mengandalkan pedati kerbau serta kereta kuda.
Menariknya, perubahan besar dalam sejarah Kota Bandung ternyata bukan hanya lahir dari kebijakan pemerintah kolonial. Ada sebuah organisasi masyarakat yang menjadi motor penggerak pembangunan kota. Di balik organisasi itu berdiri seorang tokoh bernama Pieter Sijthoff, sosok yang tak hanya piawai sebagai administrator, tetapi juga mampu menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama membangun Bandung.
Kalau memakai istilah sekarang, beliau mungkin cocok disebut sebagai "manajer proyek kota". Bedanya, proyeknya bukan satu gedung atau satu jalan, melainkan seluruh Kota Bandung.
Bandung Berubah Berkat Gotong Royong Warganya
Banyak orang mengira pembangunan kota selalu berasal dari pemerintah. Padahal, dokumen sejarah menunjukkan hal berbeda.
Pada tahun 1898 berdiri organisasi Vereeniging tot Nut van Bandoeng en Omstreken atau Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan Sekitarnya. Organisasi ini menjadi wadah bagi para pejabat, pengusaha, ilmuwan, guru, pedagang, hingga masyarakat untuk menyumbangkan tenaga dan gagasan bagi kemajuan Bandung.
Selama delapan tahun, sebelum Bandung resmi memperoleh status Gemeente pada 1906, organisasi ini bekerja tanpa henti.
Hasilnya mulai terlihat.
Bandung perlahan meninggalkan citra sebagai kota kecil dan berkembang menjadi kota modern yang diperhitungkan di Hindia Belanda.
Kalau sekarang orang ramai-ramai mengunggah foto pembangunan kota di media sosial, waktu itu mereka cukup bekerja. Dokumentasinya belakangan saja.
Jalan Bandung Mulai Ditata dengan Baik
Salah satu perubahan paling nyata adalah pembangunan infrastruktur.
Jalan-jalan diperlebar dan diperkeras menggunakan batu. Trotoar yang sebelumnya hanya berupa papan bambu diganti dengan batu alam agar lebih nyaman digunakan pejalan kaki. Selokan dibangun di sepanjang jalan untuk memperlancar aliran air, sementara pohon-pohon peneduh ditanam agar suasana kota lebih teduh.
Tak hanya itu, lampu minyak mulai dipasang sebagai penerangan pada malam hari, sedangkan pagar rumah ditata agar batas antara jalan dan pekarangan terlihat lebih rapi.
Hari ini kita menganggap trotoar sebagai hal biasa.
Padahal, lebih dari satu abad lalu, keberadaan trotoar sudah menjadi simbol bahwa Bandung sedang bergerak menuju kota modern.
Perumahan dan Pendidikan Menjadi Prioritas
Pembangunan Bandung tidak berhenti pada jalan raya.
Rumah-rumah panggung berbahan bambu mulai diganti menjadi bangunan permanen. Pemerintah juga memperkenalkan aturan mengenai tata letak bangunan sehingga kawasan permukiman menjadi lebih sehat dan tertata.
Konsep pengawasan bangunan bahkan sudah dikenal pada masa itu. Tujuannya sederhana, tetapi penting: menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan aman bagi masyarakat.
Di saat yang sama, perhatian juga diberikan kepada dunia pendidikan.
Didirikan taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah pertukangan, hingga perpustakaan umum. Langkah ini menunjukkan bahwa pembangunan kota tidak cukup hanya dengan memperbaiki jalan. Warga yang tinggal di dalamnya juga harus memperoleh pendidikan yang baik.
Bandung mulai dibangun bukan hanya dengan batu dan semen, tetapi juga dengan ilmu pengetahuan.
Lahirnya Pasar Baru Bandung
Salah satu kisah menarik dalam sejarah Kota Bandung adalah lahirnya Pasar Baru.
Awalnya, pusat perdagangan berada di kawasan Pasar Lama. Namun setelah kerusuhan pada pertengahan abad ke-19 menyebabkan kawasan tersebut rusak, banyak pedagang kehilangan tempat berjualan. Sebagian terpaksa membuka lapak di emperan toko sehingga kondisi kota menjadi semrawut.
Melihat keadaan itu, dibangunlah sebuah kawasan perdagangan baru yang diberi nama Pasar Baru.
Namanya memang sederhana.
Lucunya, sampai hari ini namanya tetap Pasar Baru, padahal usianya sudah lebih dari seratus tahun.
Kalau manusia, mungkin sudah memiliki cicit. Tetapi namanya masih "baru".
Dari Pedati Kerbau Menuju Kereta Kuda
Perubahan berikutnya terjadi di bidang transportasi.
Pedati kerbau yang sebelumnya menjadi alat angkut utama mulai digantikan oleh kereta kuda atau delman. Mobilitas masyarakat menjadi lebih cepat sehingga aktivitas ekonomi ikut berkembang.
Organisasi yang dipimpin Pieter Sijthoff bahkan menyediakan kereta jenazah yang ditarik empat ekor kuda putih. Sementara itu, Bupati Bandung menyediakan kereta kencana khusus untuk upacara pernikahan.
Hal-hal seperti ini mungkin terlihat kecil.
Namun justru menunjukkan bahwa pembangunan Kota Bandung saat itu menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Fondasi Bandung Modern
Apa yang dilakukan Pieter Sijthoff bersama masyarakat Bandung ternyata menjadi fondasi bagi perkembangan kota pada tahun-tahun berikutnya.
Jalan yang tertata, kawasan permukiman yang sehat, sekolah, perpustakaan, pasar, hingga transportasi yang semakin baik menjadikan Bandung tumbuh sebagai kota modern. Tak mengherankan jika beberapa tahun kemudian Bandung mulai dikenal sebagai Parijs van Java, julukan yang mencerminkan pesona dan kemajuan kota ini pada masanya.
Semua itu bukan hasil kerja satu malam.
Bukan pula hasil kerja satu orang.
Melainkan buah dari kolaborasi banyak pihak yang memiliki satu keyakinan: kota yang baik harus dibangun bersama.
Penutup
Saat kita berjalan di Jalan Braga, berbelanja di Pasar Baru, atau menikmati rindangnya pepohonan di sejumlah ruas jalan Kota Bandung, sesungguhnya kita sedang menikmati warisan pemikiran yang telah ditanam lebih dari satu abad lalu.
Sejarah Kota Bandung mengajarkan bahwa sebuah kota besar tidak lahir hanya karena memiliki bangunan megah atau jalan yang lebar. Kota besar lahir karena ada orang-orang yang memiliki mimpi, lalu bersedia bekerja keras untuk mewujudkannya.
Dan di antara nama-nama itu, Pieter Sijthoff layak dikenang sebagai salah satu tokoh yang membantu mengubah Bandung dari sebuah kota kecil menjadi kota yang terus memikat hingga hari ini.
