Sejarah Kota Bandung: Ketika Kuda Lebih Diperhatikan daripada Manusia, Benarkah?

Sejarah Kota Bandung mencatat kepedulian luar biasa terhadap kesejahteraan hewan. Simak kisah kusir, kuda, dan wajah humanis Bandung tempo dulu.

Pernah membayangkan ada masa ketika seekor kuda di Kota Bandung memiliki "fasilitas umum" sendiri?

Terdengar aneh jika dibandingkan dengan keadaan sekarang. Namun, begitulah potongan menarik dalam sejarah Kota Bandung pada awal abad ke-20. Saat kereta kuda masih menjadi tulang punggung transportasi, perhatian terhadap kesejahteraan hewan ternyata menjadi bagian dari pembangunan kota.

Bahkan, jika ada kusir yang memperlakukan kudanya secara kasar, ia bisa berurusan dengan petugas khusus.

Jangan salah paham dulu. Bukan berarti manusia kalah penting. Justru para pengelola Bandung kala itu memahami satu hal sederhana: kota yang baik adalah kota yang peduli kepada semua makhluk yang hidup di dalamnya.

Kalau sekarang orang ribut soal ramah lingkungan, Bandung tempo dulu rupanya sudah mempraktikkannya dengan caranya sendiri.

Ketika Kuda Menjadi Denyut Nadi Kota Bandung

Sebelum kendaraan bermotor memenuhi jalan raya, kereta kuda dan pedati kerbau adalah penguasa jalanan.

Di kawasan strategis seperti alun-alun, Stasiun Kereta Api, rumah sakit, hingga pusat-pusat keramaian, pemerintah menyediakan bak air khusus untuk kuda. Tempat minum ini dibangun agar hewan-hewan penarik kereta tidak kelelahan selama bekerja mengangkut penumpang maupun barang.

Bayangkan saja.

Di tengah aktivitas kota yang sibuk, para kusir bisa menghentikan keretanya sejenak agar kudanya minum terlebih dahulu.

Barangkali, inilah salah satu bentuk pelayanan publik yang hari ini nyaris terlupakan.

Ada Polisi yang Mengawasi Perlakuan terhadap Hewan

Menariknya lagi, Bandung tidak hanya menyediakan fasilitas bagi kuda.

Di kota ini berdiri Vereeniging tot Bescherming van Dieren, sebuah perkumpulan perlindungan hewan yang memperoleh dukungan dari pemerintah kota atau Gemeente Bandoeng.

Tugas mereka bukan sekadar menyayangi binatang.

Perkumpulan tersebut aktif mengawasi perlakuan manusia terhadap hewan. Tempat pemotongan ternak juga diawasi agar proses penyembelihan tidak membuat hewan menderita lebih lama dari yang semestinya.

Sementara itu, apabila ada kusir yang memukul atau menyiksa kudanya di jalan raya, petugas yang dikenal sebagai Upas dapat langsung memberikan tindakan.

Kalau zaman sekarang ada polisi lalu lintas, mungkin waktu itu ada "polisi kesejahteraan kuda". Bedanya, yang diperiksa bukan SIM, melainkan cara memperlakukan hewan.

Bandung Memiliki Rumah Perlindungan Hewan

Kepedulian tersebut tidak berhenti di jalan raya.

Bandung juga memiliki sebuah Dieren Asyl, semacam rumah perlindungan bagi hewan peliharaan yang ditinggalkan pemiliknya atau tidak lagi mampu dirawat.

Lembaga ini mendapat perhatian dari pemerintah kota dan didukung puluhan organisasi sosial yang menerima subsidi dari Gemeente. Bahkan, sejumlah dokter hewan turut membantu menjaga kesehatan hewan-hewan yang berada di sana.

Pada masa itu, perhatian terhadap kesejahteraan hewan ternyata sudah menjadi bagian dari pelayanan publik.

Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan Kota Bandung bukan hanya soal jalan, gedung, atau pasar, tetapi juga menyangkut nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang terhadap makhluk hidup.

Anggaran Kota Tidak Hanya untuk Infrastruktur

Catatan sejarah juga memperlihatkan sisi lain yang jarang diketahui.

Dalam Almanak voor Bandoeng tahun 1941 disebutkan bahwa pemerintah kota setiap tahun mengalokasikan dana untuk berbagai kegiatan sosial.

Di antaranya membantu Wisma Taruna, panti pendidikan anak, panti perawatan orang jompo, hingga tempat perawatan penyandang disabilitas mental di luar Kota Bandung.

Artinya, pembangunan Bandung kala itu tidak hanya mengejar kemajuan fisik, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat.

Mungkin karena itulah Bandung kemudian tumbuh menjadi kota yang nyaman dihuni.

Bandung, Kota yang Dibangun dengan Rasa Cinta

Penulis dan pemikir perkotaan Lewis Mumford pernah mengatakan bahwa nasib sebuah kota hampir sama dengan perjalanan hidup manusia.

Ungkapan itu terasa cocok untuk menggambarkan sejarah Kota Bandung.

Bandung berkembang bukan semata-mata karena memiliki jalan yang bagus atau bangunan megah. Kota ini tumbuh karena dikelola dengan rasa kepedulian.

Kepedulian kepada manusia.

Kepedulian kepada lingkungan.

Bahkan kepedulian kepada hewan.

Tak heran jika pada masa kolonial pernah muncul ungkapan berbahasa Belanda:

"Bandoeng is het paradijs der aardsche schoonen. Daarom is het goed daar te wonen."

Kurang lebih maknanya, Bandung adalah surga yang indah di muka bumi sehingga menjadi tempat yang baik untuk ditinggali.

Penutup

Saat ini mungkin kita lebih sering mengenal Bandung sebagai kota wisata, kota kuliner, atau kota kreatif. Namun, lembaran sejarah Kota Bandung mengajarkan bahwa identitas kota ini dibangun jauh lebih dalam daripada itu.

Bandung pernah menjadi kota yang berusaha menyeimbangkan pembangunan fisik dengan nilai kemanusiaan. Bahkan seekor kuda yang kelelahan di jalan pun mendapat perhatian.

Mungkin terdengar sederhana.

Namun dari kisah sederhana itulah kita belajar, bahwa kota yang hebat bukan hanya yang dipenuhi gedung tinggi, melainkan kota yang memiliki hati.

Deni Kurnia
Deni Kurnia Guru Blogger Cianjur
Disclaimer: Konten ini merupakan artikel sejarah berbasis referensi yang dikemas dengan gaya bercerita. Unsur naratif dan humor ringan bertujuan meningkatkan kenyamanan membaca tanpa mengubah fakta sejarah yang menjadi rujukan.