Sejarah Rencana Pemekaran Kota Bandung: Konsep Multi Centre hingga Pembangunan Halte Baru

Pelajari sejarah rencana pemekaran Kota Bandung melalui Plan Karsten 1919, pengembangan pasar, halte kereta api, dan konsep kota multisentra.

Sejarah Rencana Pemekaran Kota Bandung: Konsep Multi Centre hingga Pembangunan Halte Baru

Bandung bukan hanya berkembang secara alami, tetapi juga melalui perencanaan kota yang matang sejak masa kolonial Belanda. Setelah Komisi Karsten mengajukan konsep pemekaran Kota Bandung pada 1919, lahirlah berbagai rekomendasi untuk menyebarkan pusat kegiatan ekonomi, perdagangan, dan transportasi agar pertumbuhan kota menjadi lebih seimbang.

Dokumen sejarah yang menjadi dasar pembahasan ini menunjukkan bagaimana pemerintah kolonial mulai memikirkan Bandung sebagai kota modern dengan banyak pusat aktivitas (multi centres), bukan hanya bergantung pada kawasan Pasar Baru dan Alun-Alun.

Harga Tanah di Pusat Kota Melambung

Salah satu persoalan utama yang ditemukan dalam kajian Komisi Karsten adalah melonjaknya harga tanah di pusat kota akibat aktivitas perdagangan yang terlalu terkonsentrasi.

Pada tahun 1918, harga tanah di sekitar Alun-Alun Bandung telah mencapai f.40 per meter persegi, sedangkan di kawasan Kacapiring Wetan (Prapatan Lima) yang berada di bagian timur kota hanya sekitar f.10 per meter persegi.

Perbedaan harga tersebut menjadi bukti bahwa perkembangan Bandung tidak berlangsung secara merata.

Bandung Dirancang Menjadi Kota dengan Banyak Pusat Kegiatan

Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, Komisi Karsten mengusulkan agar pusat-pusat kegiatan penduduk tidak lagi terkonsentrasi di satu kawasan.

Sebaliknya, aktivitas ekonomi, perdagangan, dan pelayanan publik harus disebarkan ke berbagai penjuru kota sehingga Bandung berkembang sebagai kota dengan banyak pusat kegiatan (multi centres).

Konsep ini kemudian menjadi salah satu dasar penting dalam perencanaan tata ruang Kota Bandung pada masa berikutnya.

Perdagangan Tidak Lagi Hanya di Pasar Baru

Komisi Karsten juga mengusulkan agar aktivitas perdagangan yang selama ini hanya berpusat di Pasar Baru dipindahkan dan disebarkan ke berbagai lokasi baru.

Pemerintah didorong membangun beberapa pasar baru di berbagai kawasan sehingga masyarakat tidak selalu bergantung pada satu pusat perdagangan.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi dapat dinikmati lebih merata oleh seluruh wilayah kota.

Pasar Menjadi Pusat Pertumbuhan Permukiman

Dalam rancangan tersebut, pasar tidak hanya berfungsi sebagai tempat jual beli, tetapi juga sebagai pusat kegiatan masyarakat yang mampu mendorong tumbuhnya kawasan permukiman baru.

Komisi mengusulkan beberapa lokasi pengembangan, di antaranya:

  • Pasar Kosambi untuk melayani kawasan Bandung Timur.
  • Pasar Andir sebagai pusat perdagangan Bandung Barat menuju arah Ciroyom.
  • Pasar Ciroyom sebagai penghubung aktivitas perdagangan.
  • Pasar Tegalega dan Pasar Pungkur untuk melayani wilayah Bandung Selatan.

Penyebaran pasar-pasar ini diharapkan mampu mengurangi kepadatan di pusat kota sekaligus mempercepat perkembangan kawasan baru.

Kereta Api Menjadi Pendukung Pemekaran Kota

Perencanaan pemekaran Bandung tidak terlepas dari keberadaan jaringan kereta api.

Menurut catatan Kepala Dinas Kereta Api dan Trem Negara (Het Hoofd van den Dienst der Staatsspoor en Tramwegen), lebih dari 80 persen penumpang yang turun di Stasiun Bandung merupakan penduduk dari kota-kota kecil di sekitar Bandung yang datang untuk berdagang maupun bekerja setiap hari.

Karena itu, konsep pemekaran kota juga mempertimbangkan kemudahan akses transportasi bagi masyarakat.

Rencana Pembangunan Halte Baru

Sebagai bagian dari pengembangan transportasi, Komisi Karsten mengusulkan pembangunan sejumlah halte baru secara berurutan, yaitu:

  1. Halte Andir menuju Pasar Andir.
  2. Halte Ciroyom untuk kawasan Pasar Ciroyom.
  3. Halte Cikudapateuh (Kosambi).
  4. Halte baru di Pasar Kiaracondong.

Selain itu, masyarakat Eropa yang tinggal di kawasan Insulinde Park juga diusulkan memiliki halte tersendiri di sekitar Prapatan Lima (Nagawur) karena kawasan tersebut membutuhkan layanan angkutan kereta api.

Alternatif Ketiga Plan Karsten

Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa Alternatif ke-3 Plan Karsten memadukan beberapa unsur penting sekaligus, yaitu:

  • pengembangan permukiman baru,
  • pembangunan pasar,
  • pembangunan kawasan industri,
  • pembukaan pusat-pusat kegiatan ekonomi baru,
  • penambahan jalur kereta api,
  • serta pembangunan halte-halte baru.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa pemekaran Kota Bandung sejak awal dirancang secara terpadu antara tata ruang, perdagangan, permukiman, dan transportasi.

Warisan Perencanaan Kota yang Masih Terlihat

Meskipun telah berlalu lebih dari satu abad, banyak gagasan Komisi Karsten yang kemudian benar-benar diwujudkan dalam perkembangan Kota Bandung.

Kawasan seperti Kosambi, Andir, Ciroyom, Kiaracondong, Tegalega, hingga Pungkur berkembang menjadi pusat aktivitas masyarakat sesuai arah pengembangan yang pernah dirancang pada masa kolonial.

Dokumen sejarah ini membuktikan bahwa perkembangan Bandung bukan terjadi secara kebetulan, melainkan melalui perencanaan kota yang mempertimbangkan keseimbangan ekonomi, pemerataan pembangunan, dan kemudahan transportasi bagi seluruh warganya.

Disclaimer: Konten ini merupakan artikel sejarah berbasis referensi yang dikemas dengan gaya bercerita. Unsur naratif dan humor ringan bertujuan meningkatkan kenyamanan membaca tanpa mengubah fakta sejarah yang menjadi rujukan.