Sejarah Pemekaran Kota Bandung, Berawal dari Rencana Karsten Tahun 1919
Sejarah pemekaran Kota Bandung bermula dari Plan Karsten tahun 1919. Simak alasan Bandung berkembang menjadi kota modern sejak era Gemeente.
Pertumbuhan Kota Bandung pada awal abad ke-20 berlangsung sangat pesat. Berkembangnya perkebunan, hadirnya jalur kereta api, hingga ditetapkannya Bandung sebagai Gemeente atau kota praja mendorong meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi. Kondisi tersebut membuat pemerintah kolonial Belanda mulai menyusun rencana pemekaran kota agar perkembangan Bandung lebih terarah.
Dalam buku Wajah Bandung Tempo Doeloe dijelaskan bahwa pesatnya perkembangan ekonomi Priangan menjadi salah satu alasan utama Bandung mendapat perhatian khusus dalam pembangunan.
Priangan Menjadi Pusat Perkebunan Hindia Belanda
Daerah sekitar Bandung sejak lama dikenal sebagai penghasil berbagai komoditas perkebunan, seperti teh, kina, kopi, dan karet. Pada masa kolonial, wilayah Jawa Barat menjadi kawasan utama pengembangan tanaman ekspor.
Setelah berlakunya Undang-Undang Agraria tahun 1870, investasi perkebunan berkembang semakin pesat. Bahkan, menurut catatan yang dikutip dalam buku tersebut, lebih dari 80 persen perkebunan teh dan kopi di Indonesia berada di Jawa Barat. Sementara itu, hampir seluruh perkebunan kina berada di wilayah Priangan.
Besarnya potensi ekonomi tersebut membuat pemerintah kolonial menjadikan Priangan sebagai salah satu daerah prioritas dalam pembangunan jaringan rel kereta api.
Bandung Menjadi Gemeente
Perkembangan ekonomi yang semakin pesat mendorong perubahan status pemerintahan Kota Bandung.
Dalam buku Wajah Bandung Tempo Doeloe disebutkan bahwa Bandung memperoleh status sebagai Gemeente pada 21 Februari 1906.
Sebelum memiliki seorang Burgemeester atau wali kota, pemerintahan Bandung masih dipimpin oleh seorang Asisten Residen Priangan.
Kemudian, B. Coops menjadi Burgemeester yang memimpin Bandung pada periode 1917–1928. Pada masa kepemimpinannya, Bandung memasuki tahap pembangunan berikutnya setelah era Pieter Sijthoff yang berakhir pada tahun 1904.
Lahirnya Komisi Karsten
Beberapa tahun setelah Bandung menjadi Gemeente, Pemerintah Hindia Belanda membentuk Commissie voor de Beoordeeling van de Uitbreidingsplannen der Gemeente Bandoeng, yaitu komisi yang bertugas menilai rencana perluasan Kota Bandung.
Komisi tersebut lebih dikenal sebagai Komisi Karsten, karena dipimpin oleh E.H. Karsten. Komisi ini kemudian menyusun konsep yang dikenal sebagai Rancangan Pemekaran Kota Bandung atau Plan Karsten.
Hasil kajian tersebut disampaikan dalam Risalah Nomor 4 tanggal 12 Agustus 1919 kepada Burgemeester Bandung, B. Coops.
Empat Temuan Penting Komisi Karsten
Dalam risalah tersebut, Komisi Karsten menyampaikan beberapa kondisi yang menjadi dasar perlunya pemekaran Kota Bandung.
Pertama, perkembangan Bandung dinilai tidak seimbang. Kota yang dipisahkan oleh Sungai Cikapundung berkembang lebih pesat di wilayah Bandung Barat (West-Bandoeng) dibandingkan Bandung Timur (Oost-Bandoeng).
Kedua, sekitar dua pertiga penduduk Bandung bermukim di wilayah Bandung Barat.
Ketiga, aktivitas perdagangan sehari-hari terkonsentrasi di kawasan Pecinan di sekitar Pasar Baru. Pemusatan kegiatan sosial dan ekonomi hanya di satu kawasan dinilai kurang menguntungkan bagi penataan kota di masa mendatang.
Keempat, nilai penjualan atau omzet di Pasar Baru tercatat hampir lima kali lebih besar dibandingkan Pasar Andir maupun Pasar Kosambi.
Penataan Kota Menjadi Prioritas
Laporan Komisi Karsten memperkuat usulan yang sebelumnya disampaikan H. Heetjans, Directeur van Gemeente Werken atau Kepala Pekerjaan Umum Kota Bandung, kepada Burgemeester B. Coops.
Melalui surat rahasia Nomor 215/Gr tanggal 25 April 1918, disebutkan bahwa secara teoritis pusat Kota Bandung berada di kawasan antara Pasar Baru dan Alun-Alun, kira-kira di sekitar Penjara Banceuy.
Namun, penumpukan aktivitas perdagangan di pusat kota menyebabkan harga tanah di sekitar Alun-Alun terus meningkat. Karena itu, diperlukan penataan dan perluasan kota agar perkembangan Bandung berlangsung lebih seimbang.
Awal Perencanaan Bandung Modern
Rencana yang disusun Komisi Karsten menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perkembangan Bandung. Kajian tersebut menunjukkan bahwa sejak awal abad ke-20, pemerintah telah berupaya mengarahkan pertumbuhan kota melalui perencanaan yang lebih terstruktur.
Konsep pemekaran yang disusun pada tahun 1919 kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan Bandung menuju kota modern yang terus berkembang hingga sekarang.
Sumber: Buku Wajah Bandung Tempo Doeloe.
