Kereta Kuda di Priangan: Transportasi Legendaris yang Membentuk Sejarah Perjalanan di Tanah Pasundan

Sejarah kereta kuda di Priangan, asal-usul delman dan sado, serta perannya sebagai transportasi utama yang membentuk perjalanan di Jawa tempo dulu.

Kereta kuda priangan

Sebelum kereta api, mobil, hingga jalan raya modern berkembang di Pulau Jawa, masyarakat Priangan telah mengenal berbagai moda transportasi tradisional yang menjadi tulang punggung mobilitas. Salah satu yang paling berjasa adalah kereta kuda, kendaraan sederhana yang selama lebih dari setengah abad menghubungkan kota-kota di Jawa Barat sekaligus menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Keberadaan kereta kuda bukan sekadar alat angkut, tetapi juga menjadi simbol perkembangan transportasi di Nusantara.

Dari Bogor ke Bandung, Perjalanan 13 Jam yang Mewah

Catatan perjalanan seorang penulis bernama Henry O. Forbes pada tahun 1885 menggambarkan bagaimana perjalanan dari Bogor menuju Bandung memerlukan waktu sekitar 13 jam.

Saat itu jarak sekitar 80 mil ditempuh menggunakan kereta kuda dengan tarif yang tergolong sangat mahal, yakni sekitar 20 sen per mil atau setara 16 Gulden untuk sekali perjalanan.

Meski ongkosnya tinggi, Forbes mengaku tidak kecewa. Sepanjang perjalanan ia disuguhi panorama pegunungan Priangan yang indah, udara sejuk, serta pemandangan alam yang memikat. Baginya, biaya mahal tersebut sebanding dengan pengalaman yang diperoleh.

Namun perjalanan saat itu juga menyimpan tantangan besar. Jalan yang masih berupa tanah, tanjakan curam, hingga ancaman satwa liar membuat perjalanan jauh berbeda dibandingkan sekarang.

Kereta Kuda Bertahan di Tengah Datangnya Kendaraan Bermotor

Memasuki awal abad ke-20, kendaraan bermotor mulai memasuki Hindia Belanda. Kehadiran mobil perlahan menggeser peran kereta kuda sebagai alat transportasi utama.

Meski demikian, kereta kuda tidak langsung menghilang. Di banyak kota kecil di Priangan, masyarakat tetap mengandalkannya karena biaya operasional yang murah, mudah diperbaiki, dan sesuai dengan kondisi jalan saat itu.

Suara derap kaki kuda yang berpadu dengan gemerincing lonceng bahkan menjadi bagian dari suasana malam Kota Bandung tempo dulu. Banyak orang tua masih mengenang bunyi khas kereta kuda yang memecah keheningan malam sebelum akhirnya kembali sunyi.

Beragam Nama Kereta Kuda di Indonesia

Menariknya, setiap daerah memiliki sebutan berbeda untuk kendaraan berkuda.

Di wilayah Priangan, masyarakat mengenalnya sebagai delman, dokar, atau kretek.

Di Yogyakarta dikenal andong, sementara di beberapa daerah Jawa Timur muncul istilah mayor. Di Sulawesi Utara terdapat kendaraan serupa yang disebut bendi atau ben hur, sedangkan berbagai daerah lain memiliki nama khas masing-masing.

Perbedaan nama tersebut menunjukkan bagaimana teknologi transportasi berkembang sesuai budaya lokal tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai alat angkut masyarakat.

Asal Usul Nama Delman dan Sado

Banyak orang mengenal istilah delman, tetapi tidak semua mengetahui asal-usul namanya.

Menurut sejumlah catatan sejarah, nama Delman berasal dari seorang insinyur Belanda bernama Ir. C.T. Deeleman. Ia datang ke Hindia Belanda pada pertengahan abad ke-19 dan memiliki bengkel konstruksi besi di Batavia. Kendaraan hasil rancangannya kemudian populer sehingga masyarakat menyebutnya sesuai nama sang pencipta, yang lama-kelamaan berubah menjadi delman.

Sementara itu, istilah sado berasal dari bahasa Prancis Dos à Dos, yang berarti "punggung bertemu punggung". Nama tersebut merujuk pada posisi tempat duduk kusir dan penumpang yang saling membelakangi.

Adapun kata dokar diduga berasal dari istilah Dog Car, sejenis kereta yang berkembang di Eropa sebelum kemudian mengalami penyesuaian bentuk dan fungsi di Indonesia.

Inovasi Transportasi yang Tepat Guna

Walaupun terlihat sederhana, kereta kuda merupakan teknologi yang sangat sesuai dengan zamannya.

Sebagian besar komponennya dapat dibuat oleh pandai besi dan pengrajin kayu lokal. Perawatan pun relatif mudah sehingga kendaraan ini dapat digunakan masyarakat pedesaan tanpa bergantung pada teknologi impor.

Karena itulah kereta kuda mampu bertahan selama puluhan tahun dan menjadi sarana transportasi utama di banyak daerah.

Kini Menjadi Warisan Budaya

Seiring berkembangnya kendaraan bermotor, jumlah kereta kuda terus menurun. Di Kota Bandung, kendaraan berkuda kini hampir tidak lagi dijumpai kecuali dalam kegiatan budaya atau koleksi museum.

Namun di beberapa daerah seperti Yogyakarta dan sejumlah kota kecil di Jawa Barat, delman dan andong masih bertahan sebagai daya tarik wisata sekaligus warisan budaya yang mengingatkan masyarakat pada sejarah panjang transportasi Nusantara.

Keberadaan kereta kuda bukan sekadar cerita masa lalu. Kendaraan ini menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia telah memiliki sistem transportasi yang efektif jauh sebelum hadirnya kendaraan bermotor modern. Hingga kini, derap langkah kuda dan bunyi roda kayu yang pernah memenuhi jalan-jalan Priangan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari memori sejarah bangsa.

Deni Kurnia
Deni Kurnia Guru Blogger Cianjur
Disclaimer: Konten ini merupakan artikel sejarah berbasis referensi yang dikemas dengan gaya bercerita. Unsur naratif dan humor ringan bertujuan meningkatkan kenyamanan membaca tanpa mengubah fakta sejarah yang menjadi rujukan.