Taptoe Bandung Tempo Dulu, Saat Taman Merdeka Menjadi Panggung Musik, Parade Militer, dan Hiburan Warga

Mengenal Taptoe Bandung tempo dulu di Pieterspark atau Taman Merdeka. Parade militer, musik mars, pawai obor, dan Reveille pernah menjadi hiburan favorit warga Bandung.

Taptoe Bandung Tempo Dulu, Saat Taman Merdeka Menjadi Panggung Musik, Parade Militer, dan Hiburan Warga

Pernah membayangkan Jalan Braga dipenuhi tentara yang berbaris rapi sambil diiringi musik? Bukan sedang syuting film perang, apalagi parade Hari Kemerdekaan. Peristiwa itu benar-benar pernah menjadi hiburan favorit warga Bandung pada masa kolonial.

Setiap akhir pekan, ribuan orang datang ke Pieterspark—kini Taman Merdeka—untuk menyaksikan Taptoe dan Reveille. Ada musik, parade obor, pasukan berkuda, hingga pertunjukan yang membuat suasana Bandung sore hari begitu meriah.

Kalau sekarang orang berbondong-bondong ke Braga mencari kopi, dulu warga datang untuk menikmati suara terompet dan dentuman drum militer.

Taptoe, Hiburan Akhir Pekan yang Ditunggu Warga Bandung

Setelah memasuki dekade 1920-an, kehidupan militer di Bandung semakin terasa. Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian masyarakat adalah Taptoe, sebuah parade militer yang digelar setiap Sabtu sore.

Menjelang pukul lima sore, satu kompi tentara Belanda keluar dari barak (Kazerne) di kawasan Lapangan Siliwangi. Mereka mengenakan seragam upacara yang rapi, sepatu mengilap, membawa senjata dan panji kesatuan.

Di depan barisan, Corps Muziek Militer memainkan mars dengan drum dan alat musik tiup. Langkah para serdadu yang seragam membuat warga memenuhi tepi jalan hanya untuk menyaksikan mereka berjalan menuju Pieterspark.

Musik Mars Menggema di Taman Merdeka

Sesampainya di Pieterspark, pasukan beristirahat. Sementara itu, Corps Muziek naik ke bangunan koepel di tengah taman untuk memainkan berbagai lagu mars.

Suasana sore yang semula tenang berubah menjadi meriah. Musik mengalun sambil warga duduk santai di bangku taman, bahkan banyak yang rela duduk di rumput karena seluruh tempat telah penuh.

Bandung tempo dulu ternyata sudah mengenal konsep "nongkrong di taman". Bedanya, soundtrack-nya bukan penyanyi akustik, melainkan marching band militer.

Ketika Matahari Terbenam, Taptoe Berubah Menjadi Parade Obor

Menjelang senja, musik berhenti sejenak.

Seorang peniup terompet memainkan nada yang pelan dan menyentuh. Menurut catatan, irama itu mampu membuat suasana menjadi hening, bahkan menghadirkan rasa haru ketika matahari mulai tenggelam di ufuk Bandung.

Setelah itu, obor dan lampion yang telah disiapkan dinyalakan.

Pasukan kemudian menggelar pawai obor mengelilingi kota. Rute mereka melewati Alun-alun, Pasar Baru, lalu kembali lagi ke Pieterspark sebelum akhirnya pulang ke barak untuk beristirahat.

Pemandangan itu tentu menjadi tontonan yang sangat istimewa bagi warga Bandung saat listrik belum menerangi seluruh sudut kota.

Ada Pasukan Berkuda dan Parade Bendera

Taptoe bukan satu-satunya atraksi militer yang digelar di Bandung.

Pada masa itu juga dikenal Vlag Vertoon, yaitu parade bendera yang melibatkan pasukan kavaleri berkuda. Mereka tampil dengan seragam lengkap sambil menunggang kuda dalam formasi yang rapi.

Tak heran jika kehidupan militer saat itu menjadi bagian dari hiburan masyarakat kota.

Reveille, Alarm Pagi Sang Panglima

Selain Taptoe, ada pula upacara Reveille yang dilakukan setiap pagi.

Sekitar pukul lima, seorang prajurit meniup terompet di depan rumah panglima untuk membangunkannya.

Penulis buku bahkan menggambarkan bunyi terompet itu seolah berkata,

"Good morning get up! Good morning get up!"

Beberapa saat kemudian, sang panglima keluar dengan seragam lengkap, menerima laporan kesiapan pasukan, lalu memimpin apel pagi.

Untung saja panglima zaman itu tidak punya tombol snooze. Kalau ada, mungkin seluruh pasukan harus menunggu lima menit lagi.

Tradisi yang Mirip Pergantian Penjaga Istana

Penulis juga membandingkan Reveille dan Taptoe dengan berbagai upacara seremonial di luar negeri.

Menurutnya, tradisi itu mirip dengan pergantian penjaga di Istana Buckingham di Inggris ataupun upacara militer di Gedung Putih, Amerika Serikat.

Bahkan ketika Kolonel Kawilarang menjabat Panglima Siliwangi, tradisi Reveille disebut masih pernah dilaksanakan di Bandung.

Hiburan Gratis yang Selalu Ditunggu

Pada masa itu, warga Bandung memang membutuhkan hiburan yang mudah dijangkau.

Taptoe menghadirkan semuanya sekaligus: musik, parade, barisan tentara, pasukan berkuda, obor yang menyala saat senja, hingga suasana taman yang hidup oleh ribuan penonton.

Kini Taptoe Bandung lebih dikenal sebagai pertunjukan militer modern yang digelar pada momen-momen tertentu. Namun jauh sebelum itu, tradisi tersebut sudah menjadi bagian dari denyut kehidupan Bandung tempo dulu.

Mungkin inilah bukti bahwa sejak dahulu warga Bandung memang senang menikmati sore di ruang terbuka. Hanya saja, dulu yang lewat bukan rombongan pesepeda atau komunitas lari, melainkan pasukan berkuda lengkap dengan iringan musik militer.

Disclaimer: Konten ini merupakan artikel sejarah berbasis referensi yang dikemas dengan gaya bercerita. Unsur naratif dan humor ringan bertujuan meningkatkan kenyamanan membaca tanpa mengubah fakta sejarah yang menjadi rujukan.