Kenapa Kita Sering Overthinking?

Pernah baru mau tidur, tetapi tiba-tiba teringat percakapan tadi siang?
“Kenapa tadi saya ngomong begitu, ya?”
“Jangan-jangan dia tersinggung?”
“Kalau ternyata yang saya lakukan salah bagaimana?”
Padahal kejadiannya sudah lewat. Orang lain mungkin sudah lupa. Tetapi pikiran kita masih sibuk memutarnya kembali.
Inilah salah satu bentuk overthinking, yaitu ketika kita terus memikirkan sesuatu secara berulang-ulang, terutama sesuatu yang membuat kita khawatir, ragu, atau tidak nyaman.
Lalu, kenapa kita sering overthinking?
Apa Itu Overthinking?
Overthinking sebenarnya bukan istilah diagnosis psikologis. Istilah ini lebih sering digunakan untuk menggambarkan kebiasaan berpikir secara berlebihan atau berulang tentang suatu masalah.
Berpikir tentu bukan sesuatu yang buruk. Kita memang membutuhkan pikiran untuk mempertimbangkan pilihan, menyelesaikan masalah, dan mengambil keputusan.
Masalah muncul ketika proses berpikir tersebut tidak lagi membantu kita menemukan solusi.
Kita memikirkan masalah yang sama.
Mencari kemungkinan yang sama.
Mengulang kejadian yang sama.
Tetapi tidak mendapatkan jawaban baru.
Kenapa Kita Sering Overthinking?
Ada beberapa hal yang dapat membuat seseorang lebih mudah terjebak dalam pikiran yang berulang.
1. Kita Ingin Mendapatkan Kepastian
Manusia cenderung merasa nyaman ketika sesuatu jelas.
Sebaliknya, ketidakpastian bisa membuat pikiran terus mencari jawaban.
Misalnya setelah mengirim pesan kepada seseorang, tetapi tidak mendapat balasan.
Awalnya biasa saja.
Lima belas menit kemudian mulai berpikir.
“Dia sibuk?”
“Dia marah?”
“Saya salah bicara?”
Semakin banyak kemungkinan yang muncul, semakin sulit pikiran berhenti.
Padahal kita belum memiliki informasi yang cukup untuk menyimpulkan apa pun.
2. Kita Takut Membuat Kesalahan
Sebagian orang terlalu lama memikirkan keputusan karena takut memilih sesuatu yang salah.
Akibatnya, keputusan sederhana pun terasa berat.
Memilih pekerjaan, menjawab pesan, berbicara dengan orang lain, bahkan menentukan pilihan kecil bisa dipikirkan berkali-kali.
Keinginan untuk selalu mengambil keputusan yang sempurna justru dapat membuat kita sulit mengambil keputusan.
3. Kita Terlalu Memikirkan Penilaian Orang Lain
“Menurut dia saya bagaimana?”
Pertanyaan seperti ini bisa muncul setelah kita melakukan sesuatu di depan orang lain.
Kita kemudian mencoba menebak isi pikiran mereka.
Masalahnya, kita tidak pernah benar-benar bisa mengetahui apa yang ada di kepala orang lain hanya berdasarkan ekspresi atau satu kalimat.
Akhirnya, pikiran mengisi kekosongan informasi dengan dugaan.
Dan dugaan tersebut belum tentu benar.
4. Kita Terbiasa Mengulang Kejadian yang Tidak Menyenangkan
Ada kalanya kita terus mengingat kejadian masa lalu.
Bukan untuk belajar darinya, tetapi karena kita berharap bisa menemukan sesuatu yang berbeda.
“Seharusnya waktu itu saya bilang begini.”
“Seandainya saya tidak melakukan itu.”
“Kenapa saya tidak menyadarinya sejak awal?”
Belajar dari pengalaman tentu baik.
Tetapi mengulang kejadian yang sama tanpa menghasilkan pemahaman atau tindakan baru justru dapat membuat kita semakin lelah.
5. Kita Sedang Mengalami Tekanan
Ketika banyak masalah datang bersamaan, pikiran juga bisa menjadi lebih sibuk.
Pekerjaan belum selesai.
Masalah keluarga belum selesai.
Tugas menumpuk.
Ada persoalan dengan teman.
Semua bercampur dalam kepala.
Dalam kondisi seperti ini, wajar jika seseorang merasa pikirannya sulit berhenti.
Karena itu, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa diri kita “terlalu banyak berpikir”. Bisa jadi memang ada banyak hal yang sedang kita hadapi.
Apakah Overthinking Selalu Buruk?
Tidak selalu.
Memikirkan sesuatu secara mendalam dapat membantu kita melihat risiko dan mempertimbangkan pilihan.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika pikiran tersebut justru membuat kita semakin sulit menjalani kehidupan sehari-hari.
Misalnya sulit tidur karena terus memikirkan masalah, sulit berkonsentrasi, terus merasa cemas, atau tidak mampu mengambil keputusan sederhana.
Pada kondisi seperti itu, kita perlu mulai memperhatikan pola pikiran tersebut dan mempertimbangkan bantuan profesional jika dirasakan semakin mengganggu.
Bagaimana Cara Mengurangi Overthinking?
Kita tidak harus memaksa pikiran berhenti sama sekali.
Cobalah mulai dengan membedakan antara hal yang bisa kita kendalikan dan hal yang tidak bisa kita kendalikan.
Jika sesuatu masih bisa dilakukan, tentukan langkah kecil yang dapat dikerjakan.
Jika sesuatu berada di luar kendali, kita perlu belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa mendapatkan kepastian sesuai keinginan kita.
Menuliskan apa yang sedang dipikirkan juga dapat membantu. Dengan menaruhnya di atas kertas, masalah yang tadinya terasa bercampur di kepala bisa terlihat lebih jelas.
Dan yang tidak kalah penting, berikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat.
Tidak semua masalah harus selesai malam ini.
Jangan Percaya Semua yang Dipikirkan
Ada satu hal yang sering kita lupakan.
Pikiran bukan selalu fakta.
Ketika kita berpikir, “Dia pasti marah kepada saya,” itu adalah sebuah pikiran.
Bukan bukti.
Ketika kita berpikir, “Saya pasti akan gagal,” itu juga sebuah pikiran.
Bukan kepastian tentang masa depan.
Belajar memahami perbedaan antara fakta, kemungkinan, dan dugaan dapat membantu kita melihat masalah dengan lebih jernih.
Mungkin kita tidak bisa membuat pikiran berhenti datang.
Tetapi kita bisa belajar untuk tidak selalu mengikuti setiap pikiran yang muncul.
Kesimpulan
Kenapa kita sering overthinking? Bisa karena kita ingin mendapatkan kepastian, takut melakukan kesalahan, terlalu memikirkan penilaian orang lain, terus mengingat kejadian masa lalu, atau sedang menghadapi banyak tekanan.
Berpikir adalah bagian penting dari kehidupan.
Namun, berpikir tidak harus berarti memikirkan semuanya tanpa henti.
Kadang yang kita butuhkan bukan jawaban untuk semua kemungkinan.
Kita hanya perlu menentukan apa yang bisa dilakukan hari ini, lalu memberi kesempatan kepada pikiran untuk beristirahat.